HARGA DIRIMU, KEHORMATANMU

Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta. Mengangkat derajat siapapun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Segala puja dan puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah pula bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.Ah, Sahabat. Percayalah sehebat apapun harta, gelar, kedudukan, pangkat atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar dan pangkat, kalau pemiliknya tidak memiliki harga diri. Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri, terhormat dalam pandangan Allah SWT, dan juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kitapun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa celah kehinaan.

Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya  sampai mati! Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al Amin (seorang yang sangat terpercaya).

Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri dan kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga  tidak ada keraguan sama sekali bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong  dalam hal apapun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dengan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah Allah tutupi, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

Kedua, jaga lisan jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita atau informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang  sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

Ketiga, jangan sok tahu atau sok pinter dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan apalagi bila tanpa ilmu sebenarnya akan menunjukkan kebodohannya sendiri. Yakinlah kalau kita sok tahu, itulah tanda kebodohan kita.

Yang lebih baik kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh  karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Alloh.

Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat  setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu menjadi amanah buat kita. Ingatlah bagi orang yang suka membocorkan rahasia orang lain akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru harusnya kita jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut  syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat pula, bila ada  seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita  kepada yang lain lagi.

Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan, lalu berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepatinya walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Semua pengorbanan tidak ada artinya dan semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, naudzubillah. Rasulullah pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan baginya adalah menepati janji.

Keenam, selalulah untuk tepat waktu, karena kalau tidak tepat waktu akan jatuhlah harga diri kita. Jangan pernah terlambat walaupun  sedetik, karena sama saja terlambat semenit atau sejam, terlambat adalah terlambat. Bahkan kalau bisa datanglah lebih awal. Sekali lagi, adalah aib bagi kita untuk tidak tepat waktu. Nikmatilah hidup terhormat dengan selalu menepati janji dan tepat waktu yang tulus tanpa mengharapkan pujian dan penghargaan orang lain.

Ketujuh, jangan pernah berpikir licik dan serakah. Jangankan berbuat licik, berpikir kearah itupun jangan. Jauhkan dengan sekuat tenaga pikiran licik, ingin untung sendiri ataupun serakah, dan jangan pernah biarkan diri ini melakukannya. Percayalah tidak akan pernah beruntung dengan berbuat zhalim selain pasti akan sangat rugi dan  nista di dunia dan di akhirat. Menggapai nikmat dan karunia Allah sama sekali tidak perlu dengan kelicikan dan keserakahan. Allah Mahakaya, dengan jujur, lurus, demi Allah rizki dari Allah pasti bakal ketemu. Terutama masalah keuangan, harus sangat berhati-hati, uang itu hawanya panas, maka jangan pernah tergiur untuk mendapatkan sepersen pun terhadap sesuatu yang bukan hak kita. Percayalah bencana  pasti menghadang, mempermalukan, menghinakan, dan akan menjadi penyesalan berkepanjangan dan aib yang sulit terhapuskan kalau orang sudah cedera masalah uang.

Kedelapan, bersikaplah transparan. Kalau ingin jadi orang terpercaya, hati-hati jangan suka membunyikan apapun yang tidak layak disembunyikan. Jangan melakukan sesuatu dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi padahal orang lain layak dan berhak mengetahuinya. Jangan pula memberikan peluang orang lain bersuudzon kepada kita, biasanya orang yang bersalah atau punya niat buruk sangat takut untuk transparan. Tidak usah gentar dengan tampil apa adanya, tidak usah pula gentar dengan penilaian orang lain, jikalau kita jujur tidak bersalah, maka hidup ini akan sangat lapang dan merdeka. Sebuah suasana hidup yang indah, nyaman dan nikmat yang tidak akan pernah dimiliki oleh para penipu, orang licik, atau orang serakah.

Kesembilan, bersikaplah terbuka. Belajarlah untuk mengakui kekurangan dengan jujur dan tulus. Jangan hidup bersembunyi dibalik topeng. Jangan pula alergi terhadap kritik, saran dan koreksi, bahkan sebaliknya rindukanlah dan mintalah kepada rekan lainnya untuk rajin memberikan saran dan koreksinya. Percayalah kita tidak akan pernah terhina dengan dikoreksi orang lain, bahkan sebaliknya akan menimbulkan rasa sayang dan simpati. Yang akan terhina adalah orang yang  menipu dirinya sendiri dan berusaha menipu orang lain dengan topengnya. Camkan pula bahwa jikalau kita pandai maka nasihat dan saran orang lain itu akan membuat kita jauh lebih pandai. Kita harus sangat memperhatikan setiap tindakan. Kita tidak boleh  sembarangan dan sembrono, karena sekali orang lain kehilangan kepercayaan kepada kita akan sangat sulit dan berat sekali mengembalikan  kepercayaan itu, akan memakan waktu dan pengorbanan yang sangat panjang, yang pasti tidak akan sebanding dengan keuntungan akibat jujur.

Nah, sahabat. Selamat berjuang! Dimanapun kita, luas dan banyaknya ilmu, harta, kedudukan, gelar, pangkat dan jabatan, sama sekali tidak  berharga jikalau penyandangnya tidak memiliki harga diri dan tidak dapat dipercaya. Karenanya jikalau diantara kita ada yang suka merasa aman dengan harta, gelar, pangkat, jabatan dan kedudukan, yakinlah bahwa itu cuma topeng saja. Justru harusnya kita tidak bersandar pada semua itu. Kita harus membangun kehormatan diri kita dalam pandangan Allah. Kenapa dalam pandangan Allah? Hal ini supaya kita dapat ikhlas melakukannya, bukan karena niat ingin dipuji atau dihargai orang lain.

Karenanya apalah artinya punya mobil bagus kalau orang lain tahu kita ini penipu, pendusta, pencuri atau maling. Apalah artinya kita pakai seragam yang gagah, bawa pistol, atau bawa borgol tapi orang lain tahu kita ini peminta-minta, tukang peras, dan backing judi. Justru kita harus mulai sangat menjaga nilai kehormatan hidup kita. Walhasil walaupun kita tidak memiliki aksesoris duniawi, tapi gigihlah untuk terus menerus membangun dan menjaga kehormatan diri sebagai  seorang muslim yang sangat terpercaya sampai mati! InsyaAllah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: